Di Kehidupan Selanjutnya Jangan Menjadi Ibuku Ya

Oleh: Rut Eliarza Simamora

Ibu sosok perempuan hebat yang luar biasa kuat, berdiri tegap tanpa terlihat takut selalu menunjukkan bahwa ia bisa taklukan dunia dengan kekuatan jari ajaibnya. Ibu sosok perempuan cantik yang bisa melakukan apa saja, telaten dalam mengajari merangkak hingga bersepeda, lihai dalam mengenalkan tata krama hingga etika. Dunia rasanya tidak beradab tanpa tegas lihainya nilai kesopanan yang ia ajarkan.

Sewaktu kecil, melihatmu tidur disampingku itu terlihat biasa saja kerap kali aku menganggu ibu yang telah tertidur hanya karena minta ditemani nonton tv. Menyebalkan, tapi demi aku, ibu lakukan.

Sewaktu aku terlambat membaca, menghitung, dan menulis, ibu dengan segenap ketegasan dan kesabarannya membantuku mengenal segala rupa angka, bahasa, dan huruf demi aku dapat merakit tatanan kata yang indah.

Sewaktu aku dipuji oleh guru dan mendapatkan ranking di sekolah, ibu menatapku dengan bangga sembari mengatakan “Ini semua berkat ayahmu”. Benar, ini kekurangan ibuku, dia merasa dirinya bukanlah ibu yang sempurna. Ketika aku dewasa, aku mulai paham apa itu makna ibu dan perjuangan. Sejuta bahkan banyak sekali kata maaf dan terima kasih yang terpendam di hati ini.

Saat aku dewasa aku paham, ibu tidak pernah benar-benar tertidur sebelum aku tidur, ia selalu terjaga dan memperhatikan hingga aku tidur. Menurut ibu, dia adalah ibu yang gagal jika tidur sebelum aku tidur.

Saat aku dewasa aku paham, ibu merasa khawatir ketika aku terlambat membaca, menghitung, dan menulis. Menurut ibu, dia adalah ibu yang bodoh karena membiarkan aku tidak mengerti apapun di dunia ini.

Saat aku dewasa aku paham, ibu tidak pernah menjadi dirinya sendiri, ibu selalu memikirkan aku dan kedua saudariku. Tidak ada sehari ataupun sedetik saja ibu memikirkan dirinya sendiri, apapun akan dia relakan demi kami anaknya.

“Kalian kan anak ibu” katanya, tapi mimpi indahnya seakan kami renggut karena ibu menikah lalu hamil disaat belum sempat ia raih mimpinya menjadi seorang bidan. Sakit rasanya jika melihat atau mendengar ibu menceritakan betapa inginnya ia menjadi seorang bidan atau tenaga kesehatan.

“Maaf ya bu adek ga ambil jurusan kesehatan” ucapku, hanya perkataan itu yang bisa ku ucapkan sebagai bentuk rasa sesalku karena tidak belajar sekuat tenaga agar bisa wujudkan mimpinya. Dia hanya tersenyum dan selalu mengatakan “Pilih apa yang kamu suka aja”. Kata-kata itu keluar dari mulut orang yang paling tidak dapat memilih apa yang ia suka, selama ini ibu bagaikan terkukung di penjara seumur hidupnya, ia bagaikan menikah dengan nerakanya sendiri. Dia hidup dengan budaya yang paling aku benci, patriarki.

Sayap-sayap mimpinya patah begitu saja karena seorang laki-laki, mimpi besarnya harus hancur begitu saja demi pola pikir seorang laki-laki. Ibu selalu terima nasibnya, ibu selalu memikirkan keluarganya hingga lupa bahwa dia juga seorang anak perempuan. Di mata ibu, aku tetaplah anak perempuannya yang paling pendiam tapi di mataku ibu tetaplah seorang perempuan yang memiliki ribuan bahkan miliaran mimpi.

“Adek belajar yang betul ya, kuliah yang rajin, supaya ga kayak ibu yang ga kuliah jadi bodoh”

Ibu, tulisan ini balasan dari perkataan ibu kala itu. Aku bisa menulis saat ini bahkan kuliah sekarang ini berkat sabar, perjuangan, dan hebatnya Ibu. Jika ada satu orang yang harus aku sebutkan dalam suatu penghargaan terbesar dan tertinggi di dunia mungkin itu adalah ibu.

Sering kali ibu rumah tangga dengan tamatan sekolah menjadi sosok yang paling sering direndahkan dan disepelekan. Tetapi, semua orang perlu tahu bahwa dari rahim perempuan tamatan sekolah itulah lahir manusia yang mungkin saja menjadi pemegang gelar Professor.

Ibu, di kehidupan selanjutnya jangan menikah dengan ayah dan perjuangkan mimpi-mimpi besarmu. Perjuangkan hingga ibu lupa apa itu gagal, hingga ibu merasa puas dengan semua pencapaian ibu.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *