Merespons Disinformasi Artikel : “Ormawa Fakultas Merah Pelacur Gerakan”

Oleh: Reza

Samarinda, 17 Februari 2026 – Menyikapi eskalasi narasi dalam artikel yang diterbitkan oleh media Sambaliung tertanggal 15 Februari 2026 dengan judul “Ormawa Fakultas Merah Pelacur Gerakan”, narasi dalam artikel ini dikeluarkan seolah-olah fakultas merah sebagai perusak Gerakan. Narasi yang dilayangkan mulai dari bertemu, makan, dan berbincang ria dengan oknum intel tidak dapat dibuktikan dan dibenarkan. Justru hal tersebut cenderung merugikan pihak yang dituduh sebab menyerang dengan tanpa bukti yang kuat.

Pertama, terkait tuduhan mengenai pertemuan dengan pihak yang diduga intel, hal ini tidak dapat dibenarkan karena tidak adanya bukti konkret mengenai tindakan yang dilakukan oleh individu didalam tulisan tersebut. Jangankan makan bareng, kenal dan menegur saja tidak, bahkan didalam artikel tersebut menyatakan seolah pihak yang dituduh tersebut mengetahui agenda yang dilakukan pada waktu dan tempat yang disebutkan.

Kedua, dikatakan bahwa pimpinan Fakultas Merah berbincang mesra dengan intel, narasi ini justru menciptakan opini publik yang liar karena tidak memiliki dasar yang cukup kuat, sehingga artikel tersebut dapat dikatakan sebai fitnah yang merugikan bagi pihak yang dituduh. Kritik sah-sah saja untuk disampaikan tetapi harus berbsis pada fakta yang terjadi. Dalam tulisan tersebut, klaim utama didasarkan pada pengamatan sepihak terhadap hal yang sebenarnya tidak terjadi yang kemudian ditarik menjadi Kesimpulan bahwa idealisme telah “ditukar” dan Gerakan telah menyimpang. Secara metodologis, ini merupakan bentuk logical fallacy karena tidak ada penjelasan konteks kejadian yang terjadi, tidak adanya bukti transaksi kepentingan yang dilakukan, tidak ada verifikasi terhadap pihak yang dituduh. Dalam tradisi akademik, kritik tanpa landasan berpikir yang tidak rasional bukanlah control sosial, melainkan opini spekulatif.

Memunculkan kebingungan ketika munculnya akun Instagram yang mengangkat isu ini tanpa  mengetahui fakta dan bukti yang ada, diduga adanya kepentingan politik yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjatuhkan dan merugikan karakter dari individu yang tertuduh. Dan terkesan memunculkan kejaanggalan ketika akun tersebut muncul dengan waktu yang cepat bahkan berita yang disampaikan tidak kredibel karena tidak dibangun dengan landasan bukti dan fakta yang konkret. Sehingga berita tersebut digunakan hanya untuk kepentingan politik dengan tujuan dan maksud tertentu.

Penulis berita seharusnya berdiri di atas fondasi kebenaran, bukan di atas bara kepentingan. Tugasnya bukan menggiring opini, apalagi menyalakan api kecurigaan yang belum tentu berlandaskan fakta. Setiap kalimat yang dipublikasikan mestinya lahir dari verifikasi yang ketat, dari data yang teruji, dari bukti yang konkret—bukan dari bisikan kepentingan tersembunyi. Ketika sebuah tulisan justru membangun stigma negatif terhadap satu pihak tanpa dasar yang kokoh, publik berhak bertanya: ini jurnalisme atau propaganda? Kredibilitas tidak dibangun dari sensasi, tetapi dari integritas. Jika berita disusun dengan nada insinuatif, dengan narasi yang seolah-olah mengadili sebelum fakta berbicara, maka yang tercoreng bukan hanya nama orang yang dituduh melainkan juga marwah profesi penulis itu sendiri. Lebih berbahaya lagi ketika pemberitaan terasa sarat intrik politik, seakan-akan dirancang untuk menjatuhkan personal tertentu. Di titik itu, tulisan tak lagi menjadi alat pencerahan, melainkan senjata. Dan ketika pena berubah menjadi alat serangan, publiklah yang menjadi korban—karena mereka disuguhi persepsi, bukan kebenaran.