Penulis: Rut Eliarza
Pada perubahan zaman yang semakin canggih, beberapa orang masih sulit untuk mengenal apa itu patriarki dan mengapa patriarki itu tidak bisa diterapkan terus-menerus. Menyadari permasalahan tersebut, saya sebagai salah seorang gen-z yang gaul abis pun berusaha mencari cara agar orang-orang dapat memahami dengan benar apa itu patriarki dan mengapa banyak yang kontra dengan patriarki.
Saya akan merekomendasikan film western yaitu Enola Holmes 2 — sebenarnya ada yang pertama sih tapi kebetulan saya suka aja sama yang kedua, pada Enola Holmes 2 ini ada tokoh perempuan yang bernama Enola, dia cantik, berani, dan pintar. Enola ini berperan sebagai detektif perempuan di kotanya, dia sebenarnya kompeten untuk memecahkan misteri dan mencari orang hilang.
Permasalahannya, masyarakat di sekitar Enola kebanyakan memiliki pemahaman patriarki, mereka ga percaya Enola bisa sehebat kakaknya yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki. Enola berkali-kali menerima orang yang datang ke kantornya dan malah menanyakan “Dimana Sherlock?” yang mana itu kakak laki-laki Enola.
Patriarki tuh begitu, pemahaman bahwa laki-laki lebih kompeten, lebih hebat, dan lebih bisa dibandingkan perempuan. Simpelnya patriarki yang diajarkan dalam film tersebut ya gitu, laki-laki paling oke yang perempuan terserah. Tapi, sebetulnya patriarki lebih kompleks karena menyangkut pandangan seseorang terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan menjadi rendah dan lemah. Alhasil, adanya pemahaman ini membuat perempuan kesulitan dalam banyak hal.
Film Enola Holmes 2 ini juga memberikan gambaran di mana Enola kesulitan mencari klien karena stereotype masyarakat menganggap dirinya tidak kompeten karena setiap klien datang yang mereka ucapkan adalah “But you’re a girl!.” Pada pemikiran modern, ga sedikit dari kita paham bahwa ya perempuan bukan berarti lemah dan ga kompeten tapi ga sedikit juga masih ada yang “Bener juga ya, perempuan emang lemah dan ga sekompeten laki-laki.”
Saya ga mau berusaha terlalu keras untuk mengubah sudut pandang seseorang agar beranjak dari pikiran patriarki menjadi feminisme, tapi saya cuman mau berusaha memberikan edukasi bahwa dunia yang sekarang seharusnya sudah cukup maju untuk sedikit menerima perempuan juga bisa kok sekompeten dan sehebat laki-laki.
Saya tau sulit untuk mengubah pikiran seseorang, tapi saya ingin mengajak kalian para pembaca tulisan ini untuk merenungkan, sampai kapan kita menginjak kemampuan seseorang hanya karena dia perempuan?. Kita setara dan perempuan ga seharusnya meminta belas kasihan untuk menjadi setara.